Tolong ingatkan –lagi- aku tentang makna tawazun.

Life Of Opie -Walau hanya ucapan ringan yang keluar dari mulutnya, namun sungguh terasa begitu nyesss masuk kedalam dada ku.
 Saat melihat fahri mengambil mushaf nya untuk tilawah, dengan ekor mata aku melihat fahri curi-curi pandang melihat ke arahku yang “always” duduk didepan monitor dikelilingi kertas-kertas dan buku-buku statistika penelitian.
Berhubung aku masih merasa kesal karena tadi tidak berhasil bertemu dengan dosen pembimbing yang ternyata sedang berada diluar kota, aku pun menjadi tidak semangat lagi malam ini untuk meneruskan revisi bab4 ku.
Maka, dengan santai aku pun memanggil fahri:
“abang, sini nak, ngaji nya sama ummi”
Diluar perkiraan ku, ternyata fahri merespon dengan begitu antusias. Hampir melompat, fahri langsung bergegas mengangkat mushaf beserta meja nya dan langsung duduk manis dihadapanku.
“loh, abang kenapa nak? Kok senyum-senyum?” tanyaku.

Fahri menjawab spontan: “ abang senang mi, udah lama ummi gak dengerin abang ngaji”

JLEBBB......

Aku terdiam. Terpaku memandang wajahnya. Panas terasa di bagian wajahku, terutama di mataku. Terasa butiran-butiran air hangat bersiap untuk melompat keluar. Kutahan sekuat tenaga agar tidak menangis dihadapan wajahnya yang terlihat sedang begitu bahagia.
Rabbi....kenapa aku ini....
Begitu tega nya aku menyepelekan hal ini yang ternyata begitu dirindui oleh anakku.
Kuakui memang aku sudah lama tidak mendampingi nya mengaji. Karena memang fahri –Alhamdulillah- sudah bisa dikatakan lulus tajwid dalam tilawah nya. Jadi aku tidak begitu memprioritaskan lagi untuk mendampinginya saat tilawah. Aku hanya mendampingi nya saat sesi tahfidz, itupun belakangan ini –lagi-lagi dengan alasan sedang fokus menyelesaikan bab4-  aku cuma sempat mendampingi untuk menjelaskan makna ayatnya saja, agar dia lebih mudah dalam menghafal nya. Selanjutnya dia akan berjuang sendiri untuk menyelesaikan hafalan nya. Setelah dia benar2 hafal, barulah disetorkan kepadaku.

dan ternyata.... anakku merasa rindu ditemani dan didengarkan tilawahnya. Mungkin dia rindu dengan masa-masa saat ia baru saja mulai tilawah di alquran dulu, aku tak pernah sekalipun membiarkan fahri tilawah sendiri tanpa didampingi olehku. Setiap keberhasilan tajwid yang dibacanya, pasti langsung akan kuberi reward berupa pujian : baarakallahu fiik.... atau MasyaAllah anak umi pinter ngaji nya.... dsb....
Allahu akbar... terima kasih nak, melalui lisan sucimu, umi jadi tersadar dengan makna tawazun.
Yaaach... aku terlalu terobsesi dengan target agar bisa sidang tesis sebelum akhir semester ini, sehingga aku betul2 mengerahkan seluruhnya kepada masalah ini. Aku bahkan tidur hanya 2-3jam saja dimalam harinya. Dan baru kusadari, ternyata aku pun tidak sempat lagi memperhatikan hak anak-anakku untuk mendapatkan perhatian dariku. Allahumma.... betapa malunya diriku.
Terima kasih cintaku, fahri....
kau telah menyadarkan ku tentang makna tawazun.
Apapun yang kulakukan diluarsana, aku tidak boleh lupa sedikitpun, bahwa aku ini adalah seorang ibu, aku adalah madrasah pertama bagi anak-anakku. Dan inilah investasi akhiratku kelak. Bukan yang lain nya.

tiba-tiba, Mujahid datang mendekatiku dan berkata:
“ummi, adek juga dong mau didengerin bacaan shalat nya.....kata abang masih banyak salah.....”
Bergegas kupeluk erat kedua buah hatiku. Siap sayang...ummi janji akan lebih memperhatikan tilawah dan shalat kalian berdua.
Tolong ingatkan lagi kalau ummi khilaf ya......